Buat yang bermasalah dengan ipar-iparan terutama urusan duwit yang memang kalau dibiarkan bisa bikin runyam dan mengancam stabilitas keamanan rumah tangga.... mungkin bisa dibaca... mayan lah buat masukan ...
Karena bukan hanya masalah 'uang'-nya tapi jika sudah mengganggu apalagi dilakukan tanpa sepengetahuan salah satu pihak ... perlahan tapi pasti akan menjadi masalah ....apalagi kalo tindakan ini juga di-amin-i oleh pihak mertua ....
Mungkin jika ipar masi sekolah/kuliah bisa dimaklumi ... tapi jika ipar sudah menikah ..apalagi sudah punya suami dengan pekerjaan tetap... kok rasanya tidak pantas ya .... meski mungkin memang tidak cukup dan harus meminta...tapi jika lakukan dengan cara yang baik ..akan lebih bisa diterima ...
Maaf jika saya bilang ...tindakan ini sudah tidak menghargai posisi istri/suami dalam suatu lembaga rumah tangga ...
Artikel dari : http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=02058&rubrik=problema
"Bagaimanapun, kehidupan rumah tangga kita memang tak bisa dilepaskan dari keberadaan ipar. Apalagi perkawinan di Indonesia, pada dasarnya adalah perkawinan yang melibatkan keluarga besar. Dengan demikian, baik adik, kakak, ayah, maupun ibu, seringkali terlibat atau melibatkan diri ke dalam hidup perkawinan kita. Bahkan, dalam soal-soal yang pribadi pun seperti masalah keuangan, mereka juga terlibat.
Tentunya, bila suami dan istri berasal dari kultur dan punya kebiasaan yang sama bahwa menyokong ipar sah-sah saja dan boleh dilakukan kapan saja serta untuk keperluan apapun, maka tak terlalu jadi masalah. Tak demikian halnya bila suami-istri dibesarkan dalam kultur berbeda, "konflik bisa timbul." Bahkan, sambung Sukiat, ada, lo, keluarga yang tercerai-berai gara-gara soal uang, "iparnya pinjam uang tapi enggak dibayar atau ada iparnya yang sering merongrong minta uang." Runyam, kan?
Tapi, bukan berarti perkawinan kita akan mulus-mulus saja, lo. Pasalnya, seringkali persoalan tak lantas selesai begitu saja, sekalipun kesediaan dan kebiasaan menyokong ipar sudah disepakati kedua belah pihak. Namun konfliknya bukan bersumber dari suami-istri itu sendiri, melainkan dari si ipar yang bersikap tak tahu diri. Misalnya, si kakak cuma bisa bantu Rp. 1.000, tapi si adik ngotot minta Rp. 10 ribu. Kalau enggak dikasih, malah menjelek-jelekkan keluarga kakaknya. Ya, jelas, dong, kalau akhirnya timbul konflik baru gara-gara si ipar ngelunjak.
Ipar yang demikian, menurut Sukiat, sering bersikap dan merasa bahwa kewajiban sang kakaklah untuk membantunya sehingga dia juga ikut "berkuasa" dalam soal keuangan. "Pada saat istri si kakak mau ikut campur, eh, malah diadukan yang tidak-tidak pada kakaknya. Kesannya, kan, seperti mengadu domba. Nggak heran kalau si istri gondoknya bukan main." Si istri juga jadi serba salah; kalau menegur, nanti malah dijauhi keluarga suami. Belum lagi suaminya juga ikut marah-marah karena membela keluarganya. Nah, karena si istri merasa lama-lama dijauhi oleh suami, maka seringkali perkawinan jadi runyam gara-gara soal ipar.
Oleh karena itu, anjur Sukiat, jangan ragu untuk berbicara tegas kepada ipar yang ngelunjak. Tapi sebelumnya kita harus yakin dulu, pasangan kita berada di pihak siapa. "Siapa tahu ia sebetulnya tertekan kalau harus membiayai adik-adiknya terus-menerus, namun tak punya keberanian bicara. Nah, Anda bisa bertindak sebagai juru bicara," katanya.
Tapi bila pasangan kita termasuk tipe pembela keluarga, berarti kita harus siap "perang" besar. Soalnya, jelas Sukiat, memang ada tipe suami atau istri yang right or wrong is my family, "keluarga besarnya dibela mati-matian, sehingga gara-gara sikap ipar, hubungan suami-istri malah bisa memburuk." Apalagi kalau suaminya juga aji mumpung, "mentang-mentang istrinya bekerja sehingga punya penghasilan sendiri, suami lantas sering take it for granted. Dia pikir, toh, istrinya juga bisa cari duit sendiri, jadi uangnya bisalah untuk membiayai adik-adiknya atau kakaknya. Suami seolah-olah tak peduli dengan kebutuhan rumah tangga inti." Ya, terang saja istrinya jadi makin bertambah gondok. Iya, kan?
SALING TERBUKA UNTUK CARI SOLUSI
Sebenarnya, tutur Sukiat, bila hubungan suami-istri jadi runyam gara-gara menanggung ipar, maka masing-masing pihak harus membuka diri untuk mencari solusi. "Kalau memang bantuan mau tak mau harus diberikan, buatlah daftar skala prioritas," anjurnya. Misalnya, kalau kita sudah menikah, apa, sih, yang menjadi prioritas pengeluaran kita; apakah untuk anak-anak atau keluarga besar? Bukankah suami-istri juga perlu menabung untuk kebutuhan biaya sekolah anak-anak kelak? Ingat, biaya sekolah jaman sekarang enggak sedikit, lo. Kita arus menabung sejak anak-anak masih balita.
Dengan membuat daftar skala prioritas, terang Sukiat, maka pos-pos diluar kebutuhan rutin seperti uang bantuan untuk ipar, harus didiskusikan bersama seberapa besar dan untuk keperluan apa saja yang boleh disokong. "Meskipun suami atau istri dibesarkan dalam keluarga yang sering saling bantu-membantu dalam hal keuangan, namun bila sudah menikah hendaknya setiap bantuan yang diberikan kepada adik-adik atau keluarga besarnya harus sepengetahuan pasangannya." Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk orang lain di luar keluarga inti, suami dan istri sudah sama-sama tahu dan setuju jumlahnya. Dengan demikian, konflik soal tanggung-menanggung ipar bisa dihindarkan.
"Memang, sih, belum ada orang yang bercerai gara-gara uang lari ke ipar," ujar Sukiat. Tapi kalau dibiarkan berlarut-larut, ada satu pihak yang tak puas karena dirongrong terus oleh ipar, lama-lama, kan, bisa terjadi perceraian secara psikologis; tinggal satu atap, tapi sudah tak ada lagi hubungan emosional. "Jadi di rumah pun sifatnya sudah lu-lu gue-gue. Secara psikologis sudah saling mandiri dan membuat batas," lanjutnya. Ya, tetap runyam juga, dong, jadinya.
Tentu saja, dalam menyokong ipar hendaknya dilakukan setelah kebutuhan keluarga inti terpenuhi. Jadi, bantulah sesuai kemampuan, tak usah gengsi soal besarnya. "Membantu menyekolahkan adik-adik atau keluarga yang sedang kesulitan itu pekerjaan mulia. Tapi, kalau memang kita enggak mampu, ya, jangan memaksakan diri," nasihat Sukiat. Apalagi kalau kita memaksakan diri demi mendapat cap baik di keluarga besar, sementara di dalam rumah sendiri sebenarnya masih kesulitan menata keuangan. "Itu, kan enggak fair," lanjutnya.
Jadi, sekalipun kita adalah kakak sulung tapi kalau kehidupan keluarga kita sendiri pas-pasan, ya, tak usahlah kita memaksakan diri membantu adik-adik sampai mengorbankan keluarga kita sendiri. Toh, kita bisa memberi bantuan dengan cara lain. Misalnya, membantu per segmen. Saran Sukiat, buatlah perjanjian dengan sang adik atau ipar, "Oke, untuk kebutuhan kuliah, Kakak bantu. Tapi, untuk kebutuhan sehari-hari, usahakan sendiri atau minta pada kakak yang lain." Pada prinsipnya, kasihlah bantuan sesuai kemampuan.
taken from : NAKITA online (not for commercial use)